
Humas Universitas Sulawesi Barat, MAJENE — Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) menghadirkan podcast Resona Saintek yang mempertemukan perspektif sains dengan pengetahuan dan kearifan lokal masyarakat Mandar. Podcast yang berlangsung di Studio Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Unsulbar, Sabtu, 5 September 2026, menghadirkan Kepala UPTD Puskeswan Banggae Kabupaten Majene bersama Ruth Dameria, dosen Fakultas Peternakan dan Perikanan Unsulbar.
Dalam perbincangan tersebut, salah satu isu yang menjadi perhatian adalah ketersediaan pakan ternak yang menjadi tantangan bagi peternak, khususnya saat memasuki musim kemarau. Kondisi tersebut mendorong perlunya inovasi dalam memanfaatkan sumber daya lokal sebagai alternatif pakan yang lebih mudah diperoleh dan ekonomis.
Kepala UPTD Puskeswan Banggae menjelaskan, pengembangan peternakan di Kabupaten Majene juga berkaitan dengan pemetaan wilayah komoditas. Sejumlah wilayah memiliki potensi pengembangan ternak sapi, sementara wilayah seperti Banggae Timur dan Pamboang dinilai memiliki potensi untuk pengembangan ternak kambing.
Persoalan pakan menjadi semakin penting ketika terjadi musim kemarau panjang. Salah satu solusi yang diperkenalkan adalah fermentasi pakan untuk membantu peternak menyediakan cadangan pakan tanpa harus selalu mencari pakan secara langsung di alam.
Ruth Dameria menjelaskan bahwa penelitian yang dilakukan bersama masyarakat salah satunya berfokus pada pembuatan pakan fermentasi atau silase dengan memanfaatkan tanaman yang tersedia di wilayah Sulawesi Barat, khususnya Kabupaten Majene.
“Kami sudah turun ke masyarakat dan memberikan edukasi karena melihat sulitnya pakan bagi ternak, apalagi di musim kering. Kalau pakan dibeli, harganya bisa sangat mahal. Karena itu, bagaimana memanfaatkan tanaman yang ada di Sulawesi Barat, khususnya di Majene, untuk kita buat menjadi pakan,” jelas Ruth.
Menurutnya, pola musim di Majene yang cenderung terbagi antara musim hujan dan musim kemarau menjadi tantangan tersendiri bagi peternak. Karena itu, teknologi sederhana seperti fermentasi pakan dapat menjadi salah satu alternatif untuk menjaga ketersediaan pakan sepanjang tahun.
Selain membahas persoalan teknis peternakan, podcast tersebut juga menyoroti peluang pengembangan peternakan sebagai sektor ekonomi. Ruth mendorong mahasiswa dan generasi muda untuk tidak hanya melihat peternakan sebagai aktivitas pemeliharaan hewan, tetapi juga sebagai peluang bisnis yang dapat dikembangkan secara modern.
Ia menilai, pengembangan peternakan dapat diarahkan pada pembentukan usaha bersama, pemanfaatan teknologi, hingga membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk dukungan pendanaan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
“Bagaimana kita bisa membuat peternakan itu menjadi hal yang keren. Bisa dimulai dengan membuat kandang bersama, kemudian lebih mudah mencari sumber dukungan pendanaan dari CSR,” ujarnya.
Ruth juga mengajak generasi muda untuk melihat pendidikan peternakan sebagai salah satu jalan untuk mengembangkan sektor peternakan secara lebih modern dan profesional.
“Saya dosen dari Fakultas Peternakan dan Perikanan. Bisa ambil jurusan peternakan, nanti kita belajar banyak bagaimana kita bisa beternak dan mengembangkan peternakan yang ada di Kabupaten Majene. Satu hal, peternakan unggul maka perekonomian juga unggul,” tuturnya.
Resona Saintek sendiri menjadi ruang komunikasi hasil riset perguruan tinggi dengan pengetahuan yang tumbuh dan diwariskan dalam kehidupan masyarakat. Melalui podcast tersebut, hasil penelitian tidak hanya ditempatkan dalam perspektif sains modern, tetapi juga didialogkan dengan pengalaman, kebiasaan, dan kearifan lokal masyarakat Mandar.
Podcast ini merupakan bagian dari program kampanye tematik sains dan teknologi yang mendorong perguruan tinggi, khususnya Unsulbar, tidak berhenti pada menghasilkan riset, tetapi juga mengomunikasikan, menghilirisasikan, dan menghadirkan manfaat riset agar lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Produksi Resona Saintek melibatkan unsur akademisi, peneliti, mahasiswa, masyarakat, pelaku usaha, pemerintah, serta berbagai pihak secara kolaboratif. Dalam kegiatan ini, podcast dipandu Nor Indriyanti, M.Pd., Irfan, S.Kep., Ns., M.Kep., Hilman Qudratuddarsi, M.Ed., dan Eli Meivawati, S.Pd.,M.Pd
Kegiatan turut didukung Tim Humas Unsulbar yang diketuai Darmawangsa, S.S., bersama anggota Nurcahya, S.IP.
Tayangan lengkap podcast ini dapat di saksikan pada channel Youtube Universitas Sulawesi Barat
