Logo Universitas Sulawesi Barat
Beranda Berita Unsulbar Hilirisasikan Riset Kaki Diabetik, L...

Unsulbar Hilirisasikan Riset Kaki Diabetik, Latih Kader Posbindu Labuang Deteksi Dini Neuropati

berita
Humas UNSULBAR
08 September 2026
114 views

Tim pengabdian FIKes Unsulbar memperkenalkan Modul PEKA KAKI DIABETES kepada kader Posbindu Kelurahan Labuang.
Tim pengabdian FIKes Unsulbar memperkenalkan Modul PEKA KAKI DIABETES kepada kader Posbindu Kelurahan Labuang.

Humas Universitas Sulawesi Barat, Majene- Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Sulawesi Barat (FIKes Unsulbar) melatih 15 kader kesehatan Posbindu Kelurahan Labuang, Kabupaten Majene, dalam deteksi dini risiko neuropati dan perawatan kaki pasien diabetes. Kegiatan berlangsung pada 4 Agustus 2026 di Kelurahan Labuang sebagai bagian dari program pengabdian berbasis hilirisasi hasil riset.

Program bertajuk “Pemberdayaan Kader Kesehatan Berbasis Modul PEKA KAKI DIABETES dan Buerger Allen Exercise” tersebut didanai Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unsulbar melalui Skema Pengabdian Hilirisasi. Kegiatan ini menjadi langkah FIKes Unsulbar menerjemahkan hasil penelitian dosen menjadi keterampilan praktis yang dapat diterapkan kader di masyarakat.

Hasil pendataan awal menunjukkan masih terdapat kesenjangan keterampilan di kalangan kader. Seluruh 15 kader yang terlibat belum pernah mengikuti pelatihan khusus perawatan kaki pasien diabetes, menggunakan alat monofilament, maupun mengajarkan latihan kaki. Bahkan, enam kader atau sekitar 40 persen mengaku pernah menemukan luka pada kaki pasien yang mereka dampingi.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena penderita diabetes berisiko mengalami neuropati perifer yang dapat menurunkan kemampuan merasakan nyeri, tekanan, maupun suhu pada kaki. Luka kecil yang tidak disadari berpotensi berkembang menjadi luka yang lebih serius apabila tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini.

Ketua Tim Pengabdian, Kurnia Harli, BSN., MSN mengatakan hasil pendataan menunjukkan para kader sebenarnya telah memiliki pemahaman yang cukup mengenai diabetes dan risikonya terhadap kaki, tetapi masih membutuhkan penguatan keterampilan praktis.

“Pola ini menunjukkan kader sebetulnya sudah cukup paham secara konsep, tapi belum punya keterampilan praktis. Karena itu pelatihan kami rancang lebih banyak praktik langsung, bukan sekadar ceramah,” jelas Kurnia.

Dalam pelatihan tersebut, kader mendapatkan tiga komponen utama. Pertama, Modul PEKA KAKI DIABETES sebagai panduan perawatan kaki mandiri yang telah memperoleh pencatatan Hak Kekayaan Intelektual. Kedua, Buerger Allen Exercise (BAE), latihan sederhana yang dapat dilakukan pasien secara mandiri untuk membantu meningkatkan sirkulasi pada tungkai. Ketiga, penggunaan monofilament 10 gram untuk melakukan skrining sensasi pada beberapa titik telapak kaki sebagai bagian dari deteksi awal risiko neuropati.

Selain materi dan praktik penggunaan alat, pelatihan juga mencakup teknik komunikasi terapeutik dan edukasi pasien yang difasilitasi Irfan, S.Kep.Ns., M.Kep. Para kader mengikuti pengukuran pengetahuan sebelum dan sesudah pelatihan sebagai bagian dari evaluasi program, sementara hasil lengkapnya masih dalam proses verifikasi.

Kepala Pustu Kelurahan Labuang, Bidan Fitri, menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, keterampilan yang diperoleh kader dapat membantu tenaga kesehatan melakukan pemantauan pasien diabetes secara lebih dini.

“Selama ini pasien diabetes di sini belum pernah diperiksa kakinya secara rutin. Dengan kader yang sudah dilatih, kami di Pustu jadi lebih terbantu memantau pasien sejak dini,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Reski Tenriani, kader Posbindu Kelurahan Labuang. Ia mengaku mendapatkan pemahaman baru mengenai pentingnya pemeriksaan kaki bagi pasien diabetes.

“Awalnya saya tidak tahu kalau kaki pasien diabetes bisa berbahaya kalau tidak diperiksa. Sekarang saya jadi lebih paham dan bisa bantu tetangga sendiri,” katanya.

Program pengabdian ini berlangsung sejak April hingga November 2026, dengan tim pelaksana terdiri atas Kurnia Harli, BSN., MSN sebagai ketua, Irfan, S.Kep.Ns., M.Kep sebagai anggota, serta lima mahasiswa Program Studi Keperawatan Unsulbar.

Melalui program ini, FIKes Unsulbar menargetkan pemeriksaan kaki pasien diabetes dapat menjadi bagian dari kebiasaan pelayanan Posbindu, sekaligus memperkuat peran kader dalam mendeteksi risiko neuropati dan mencegah komplikasi kaki diabetik sejak dini.

Tim pengabdian FIKes Unsulbar memperkenalkan Modul PEKA KAKI DIABETES kepada kader Posbindu Kelurahan Labuang.
Seorang kader mempraktikkan penggunaan monofilament 10-gram didampingi oleh Fasilitator.

Dokumenter  pengabdian dapat dilihat pada tayangan video channel youtube pengabdian https://youtu.be/9NMi9TTcgA8?si=BvPPrwmOtq99A-d1

Bagikan Artikel